""munculkan lah kelebihan mu biar tau apa yang dimaksud hidup,
cap lah diri ini sebagai orang yang optimis biar tercipta tujuan hidup"

Senin, 21 Mei 2012

puisi

mengingatkan kembali puisi
 

KARAWANG BEKASI
Oleh Khairil Anwar

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi


Kamis, 26 April 2012

Kombinasi Band dalam citra satelit


Kombinasi Band dalam citra satelit  landsat


BAND disebut juga Channel atau saluran, Suatu alat spectrum elektromagnetik yang dirancang untuk kepentingan misi tertentu pada sebuah pengindera. 
Ø  Sebuah pengindera sekurang-kurangnya memiliki satu saluran. 
Ø  Sekumpulan data berisi nilai-nilai yang disimpan dalam suatu berkas (file) yang menggambarkan spectrum elektromagnetik tertentu. 
Ø  Sekumpulan data berisikan hasil proses (penisbahan, penambahan, dll) bandband yang lain.

Landsat
Citra multi spektral Landsat dengan resolusi spasial 30m memiliki beberapa band yang karakteristiknya berbeda-beda: 3) 4)
1. Band 1 0.45 – 0.52 m: Band biru ini memiliki informasi yang tinggi terhadap tubuh air jadi sangat sesuai untuk penggunaan lahan, tanah dan vegetasi.
2. Band 2 0.52 - 0.60 m: Band hijau ini memiliki informasi mengenai vegetasi selain cocok untuk penggunaan lahan, jalan dan air namun sesuai pula untuk diskriminasi dan assesmen vegetasi. Dimana tanaman-tanaman yang kurang sehat dapat diketahui karena absorbsi cahaya merah oleh klorofil menurun atau refleksi pada daerah merah naik sehingga menyebabkan daun berwarna kuning
3. Band 3 0.63 – 0.69 m: Band merah ini memiliki informasi mengenai perbedaan antara vegetasi dan non vegetasi, misalnya dapat dilihat adanya perbedaan antara vegetasi dengan tanah khususnya pada daerah urban.
4. Band 4 0.76 – 0.90 m: Band inframerah dekat ini memiliki informasi mengenai varietas tanam-tanaman serta adanya perbedaan antara unsur air dengan unsur tanah, oleh karena itu dapat dilihat garis pantai dengan jelas.
5. Band 5 1.55 – 1.75 m: Band inframerah gelombang pendek ini memiliki informasi mengenai perbedaan warna antara tanah terbuka dengan objek-objek lain. Band ini sesuai untuk studi kandungan air tanah, air pada tanam-tanaman, formasi batu-batuan dan geologi pada umumnya
6. Band 6 10.40 -12.50 m: Band inframerah thermal ini memiliki informasi tentang studi kandungan air tanah, serta dapat membedakan kelembaban tanah dan fenomena-fenomena thermal.
7. Band 7 2.08 – 2.35 m: Band inframerah gelombang pendek ini memiliki informasi mengenai tanah terbuka sama halnya dengan band 5 akan tetapi lebih mengacu pada studi geologi maupun formasi batu-batuan.

Sedangkan untuk band 8 atau sering disebut band pankromatik memilki resolusi spasial 15m. Citra Landsat yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Landsat ortho 14,25m dimana sudah digabungkan antara multispektral dengan pankromatiknya serta kombinasi band yang digunakan hanya band 7, 4 dan 2.

 SPOT
Untuk citra SPOT-4 yang menggunakan empat kanal spektral resolusi spasial 20m dan panjang gelombang yang berbeda-beda yaitu Band 1 pada jangkauan 0.50 - 0.59 m, Band 2 pada 0.61 - 0.68 m, Band 3 pada 0.78 - 0.89 m, dan Band 4 pada inframerah gelombang pendek (Short Wave Infrared) 1.58 - 1.75 m. Citra pankromatik SPOT-4 direkam menggunakan panjang gelombang tampak (0,51-0,71 m) dengan resolusi spasial 10m, sedangkan untuk citra SPOT-2 menggunakan tiga kanal spektral sama yaitu band 1, 2 dan 3, dimana citra pankromatik SPOT-2 direkam menggunakan panjang gelombang tampak (0,49-0,73 m) dengan resolusi spasial 10m. 6)





(Ade sopyan - 10070309010)

Rabu, 16 Februari 2011

sejarah goyang karawang

Menurut si kakek  mengaku sedari kecil/anak-anak, dia (si kakek) sudah mengenal istilah goyang karawang. Dengan demikian ini melekatkan arti bahwa istilah goyang karawang sudah cukup lama berkembang terutama di masyarakat karawang sendiri. Menurut si kakek, asal muasal istilah goyang karawang terlahir dari satu tradisi masyarakat (khusus kaum perempuan) yang sering kali melakukan kegiatan “nginter” /"nampi beras" yang mana kegiatan itu berupa bagian dari proses produksi pertanian. Itu saja yang si kakek ketahui tanpa ada penjabaran/penguraian lebih detail.

Dari pengalaman berbincang dengan si kakek itulah kemudian saya menyambungkan dengan kesejarahan kabupaten karawang yang hendak saya papar dibawah ini.
Bermula pada sekitar abad 17, saat sultan Mataram mengirim balatentara dibawah pimpinan Bupati Surabaya ke tanah pasundan/Jawa Barat dengan maksud untuk menundukan kerajaan Banten, Sayangnya dalam perjalanan mereka dihadang oleh pasukan VOC, kemudian pasukan Bupati Surabaya berhasil dipukul mundur. Lalu Sultan agung Mataram mengirim ekspedisi ke dua di bawah pimpinan Dipati Ukur tapi lagi-lagi nasibnya serupa dengan pasukan yang pertama.

Guna membendung arus ekspansi wilayah kekuasaan VOC, Sultan Mataram mengutus Penembahan Galuh (Ciamis) bernama R.A.A. Wirasuta yang bergelar Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi III untuk menduduki Rangkas Sumedang (Sebelah Timur Citarum). Selain itu juga mendirikan benteng pertahanan di Tanjungpura, Adiarsa, Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah mendirikan benteng tersebut Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke Galuh dan wafat. Nama Rangkas Sumedang itu sendiri berubah menjadi Karawang karena kondisi daerahnya berawa-rawa (Sunda :"Karawaan").

Dari masa inilah kemudian tentara mataram mulai memaksa masyarakat untuk bercocok tanam/bertani dan upeti yang besar bagi petani yang sudah lebih dulu menanam bahkan tak jarang perampasan hasil panen milik petani guna menyandang logistic/pangan bagi kebutuhan perang melawan kerajaan  Banten dan menghalau tentara kompeni.

Sultan Agung Mataram kemudian mengangkat putera Adipati Kertabumi III, yakni Adipati Kertabumi IV menjadi Dalem (Bupati) di Karawang, pada Tahun 1656. Adipati Kertabumi IV ini juga dikenal sebagai Panembahan Singaperbangsa atau Eyang Manggung, dengan ibu kota di Udug-udug.
Pada masa pemerintahan R. Anom Wirasuta putera Panembahan Singaperbangsa yang bergelar R.A.A. Panatayuda I antara Tahun 1679 dan 1721 ibu kota Karawang dari Udug-udug pindah ke Karawang, dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah antara Cihoe (Cibarusah) dan Cipunagara. Pemerintahan Kabupaten Karawang berakhir sekitar tahun 1811-1816 sebagai akibat dari peralihan penguasaan Hindia-Belanda dari Pemerintahan Belanda kepada Pemerintahan Inggris.

Antara tahun 1819-1826 Pemerintahan Belanda melepaskan diri dari Pemerintahan Inggris yang ditandai dengan upaya pengembalian kewenangan dari para Bupati kepada Gubernur Jendral Van Der Capellen. Dengan demikian Kabupaten Karawang dihidupkan kembali sekitar tahun 1820, meliputi wilayah tanah yang terletak di sebelah Timur sungai Citarum/Cibeet dan sebelah Barat sungai Cipunagara.Dalam hal ini kecuali Onder Distrik Gandasoli, sekarang Kecamatan Plered pada waktu itu termasuk Kabupaten Bandung. Sebagai Bupati I Kabupaten Karawang yang dihidupkan kembali diangkat R.A.A. Surianata dari Bogor dengan gelar Dalem Santri yang kemudian memilih ibukota kabupaten di Wanayasa.

Pada masa pemerintahan Bupati R.A. Suriawinata atau Dalem Sholawat, pada tahun 1830 ibu kota dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih yang diresmikan berdasarkan besluit (surat keputusan) pemerintah kolonial tanggal 20 Juli 1831 nomor 2.
Pembangunan dimulai antara lain dengan pengurugan rawa-rawa untuk pembuatan Situ Buleud, Pembuatan Gedung Karesidenan, Pendopo, Mesjid Agung, Tangsi Tentara di Ceplak, termasuk membuat Solokan Gede, Sawah Lega dan Situ Kamojing.
Pembangunan terus berlanjut sampai pemerintahan bupati berikutnya.

Kabupaten Karawang dengan ibukota Purwakarta berjalan sampai dengan tahun 1949. Pada tanggal 29 Januari 1949 dengan Surat Keputusan Wali Negeri Pasundan Nomor 12, Kabupaten Karawang dipecah dua yakni Karawang Bagian Timur menjadi Kabupaten Purwakarta dengan ibu kota di Subang dan Karawang Bagian Barat menjadi Kabupaten Karawang. Berdasarkan Undang-undang nomor 14 tahun 1950, tentang pembentukan daerah kabupaten dalam lingkungan Propinsi Jawa Barat, selanjutnya diatur penetapan Kabupaten Purwakarta, dengan ibu kota Purwakarta, yang meliputi Kewedanaan Subang, Sagalaherang, Pamanukan, Ciasem dan Purwakarta. (wiki pedia)

Dari sepintas sejarah ini kita akan sedikit dapat menarik benang merahnya. Saya akan mengurai hal-hal yang menurut saya dari sejarah tersebut goyang karawang muncul seiring dengan kabupaten karawang yang dijadikan penyangga logistic oleh tentara mataram. Pertanian kabupaten karawang pun boleh dikatakan berkembang pada saat itu, sebagaimana kita ketahui bahwa seni budaya itu dilahirkan dari rahim relasi-relasi social dan corak produksi masyarakatnya.

System produksi pertanian dan asal mula istilah goyang karawang
Tentu saja Pertanian Karawang pada masa-masa itu masih sangat tradisional. Tradisional di sini boleh dibilang karena dari cara dan alat-alat produksinya yang masih sangat sederhana tanpa kehadiran mesin produksi seperti traktor dan mesin penggilingan padi yang saat ini sudah banyak dipergunakan.

Agar lebih mendekatkan pencarian istilah goyang karawang, terlebih dulu saya akan paparkan proses produksi bertani pada waktu itu. Proses produksi yang dilakukan pertama kali adalah merendam benih (varietas) pilihan yang akan ditanam (selama kurang lebih satu minggu). Tahap kegiatan ini sejalan dengan pengolahan tanah dan pembuatan persemaian, setelah itu melakukan penyemaian selama 21 hari, lalu proses berikutnya adalah menanam (tandur) setelah selesai tandur baru memasuki fase perawatan (ngoyos/ngarambet dan pemberian pupuk alami) dan setelahnya tinggal menunggu masa panen. Saat panen, setelah padi di petik kemudian digebot dan lalu dijemur proses  selanjutnya yaitu menumbuk padi yang sudah kering hingga menjadi beras. Pada proses akhir inilah yang menurut saya penting untuk kembali saya urai detail.

Dalam menumbuk padi agar sampai menjadi beras, waktu itu masyarakat menggunakan alat alu dan lesung. Biasanya kaum perempuan yang mengerjakan proses ini secara bersama-sama/kolektif. Dalam proses pemisahan antara beras dengan gabah setelah ditumbuk, di sebut nginter (b.sunda). Yaitu sebuah gerakan tubuh perempuan pada posisi berdiri sambil menggerak-gerakan nyiru (alat untuk menampi yang terbuat dari anyaman bambu), berisi kira-kira 90% beras dan 10% gabah (pada fase ini gabah tersebut diistilahkan khusus menjadi serah) dengan maksud biji yang masih berbentuk gabah/serah terpusat di tengah nyiru lalu biji gabah/serah yang sudah terpusat di tengah nyiru tersebut di (rawu/diambil dengan kedua telapak tangan) dan dipisahkannya dari biji beras untuk kemudian ditumbuk kembali.  Nah, dalam proses nginter ini lah (terdapat gaya sentrifugal/berlawanan arah keluar) ketika kedua tangan menggerakan nyiru berputar kearak kiri maka secara otomatis tubuh berputar tetap ke arah kanan, dengan tubuh sedikit condong kedepan maka tampak sekali pinggul bergoyang secara kontinyu.
Kebiasaan lainnya pada saat perempuan-perempuan desa menyelesaikan pekerjaan penumbukan, mereka melakukan pemukulan lesung dengan alu masing-masing secara teratur dan berirama sehingga mengeluarkan suara yang enak di dengar sambil sebagian dari mereka melagukan kawih-kawih sunda dan sebagian menari (mungkin ini salah satu seni musik dan kawih/lagu yang dilahirkan oleh kegiatan produksi).

Karena yang demikian itu merupakan pekerjaan produksi yang menjadi bagian dari proses kehidupan manusia, maka gerakan goyang yang misterius kesejarahannya tersebut berlangsung setiap saat dimanapun kaum perempuan tani berada.
Kegiatan tersebut tak hanya dilakukan oleh perempuan tua, melainkan dilakukan pula oleh gadis-gadis desa dimasa itu di Karawang (sekarang kabupaten karawang) dan dulu karawang yang sekarang sudah menjadi kabupaten Purwakarta dan kabupaten Subang
Barulah kemudian di era yang tengah terjajah tersebut, laki-laki biadab (tuan tanah/hulubalang kerajaan/serdadu penjajah) meyakini atau lebih tepatnya mengasumsikan bahwa perempuan-perempuan Karawang memiliki kelebihan tersendiri yaitu goyangan pinggulnya, tentu saja yang mengisi kepala mereka adalah nafsu sahwat yang tak terkendali. Dengan segenap kekuatan/kekuasaan/bahkan senjata mereka dengan sangat mudah mengambil gadis-gadis desa tersebut sebagai pengganti tebusan utang (rente) yang tak terbayar oleh bapak-bapak mereka, lalu dijadikannya pelayan nafsu durjana mereka, bahkan tak jarang pemerkosaan dilakukannya. Walalupun sebenarnya sistem matriarchal sudah berubah menjadi patriarchal di era ini, yang menghendaki kaum laki-laki memikiki dominasi atas kaum perempuan.

Seiring perjalanan waktu, terdapat penyatuan dan serapan budaya seni jaipong (yang konon berasal dari bandung) dalam kehidupan masyarakat karawang dimana masyarakat karawang pun sudah mengenal seni tarik suara, musik dan tarian di tengah kegiatan produksi pertanian masih menghisap penuh dengan kegetiran sertamenghambakan banyak kaum buruh tani.
Dengan demikian, menurut saya untuk mengetahui seluk beluk goyang karawang pada esensinya bukan terletak pada ruang dan titimangsa, pelaku sejarah, kapan dan dimana mulai muncul nama goyang karawang. Akan tetapi terdapatnya kandungan pesan tentang sejarah goyang karawang ditengah kegigihan nenek kakek kita dalam mempertahankan hidup serta merebut kembali hak-haknya yang direnggut penguasa feudal (tuan tanah dan sebarisan pemerintahan zhalim), hingga kepedihan itu berlanjut ke masa penjajahan berikut perlawanan rakyatnya (baca : Prasasti Rawagede) juga kemiskinan para petani dan kaum perempuan dibawah patriarchal. Jadi kesimpulannya adalah goyang karawang bukan seni budaya hedonis yang mendegradasi derajat kaum perempuan, melainkan seni budaya kolektif/gotong royong yang tumbuh pada perjuangan kemerdekaan diri.

Penyebaran istilah Goyang Karawang
istilah goyang karawang tersiar lebih luas jangkauannya dan lebih cepat daya rambatnya ketika media massa elektronik berkesanggupan menjalarkannya hampir keseluruh pelosok negeri. ini pun sangat dimungkinkan oleh peran Lilis Karlina sebagai pedangdut yang cukup memiliki kemampuan tarik suara di jagad musik Indonesia, dimana pada masa itu musik dangdut boleh dikatakan masih menempati ruang terlebar di masyarakat, tanpa ada pengecualian pada kalangan/segmen anak muda dan daerah perkotaan yang saat ini sudah menjadi pasar bagi perusahaan-perusahaan/industri rekaman/bisnis entertain, khususnya musik seperti pop, rock dan sebagainya. 
Yang menjadi menarik buat kita adalah tak sekedar penyiaran media tentang lagu Goyang Karawang oleh keselarasan suara Lilis Karlina sendiri yang mendongkrak penjualan kaset/CD. Akan tetapi ada satu hal lain tentang banyaknya kalangan pengamat musik dangdut yang menilai dan membandingkan dengan Itje Tresnawati dalam lagu "Duh Engkang", jauh lebih hebat dibanding Goyang Karawang Lilis Karlina dalam kapasitas vokal dan bangunan liriknya. Kalau pun secara pasar Lilis Karlina mampu mengungguli popularitas Itje Tresnawati, ini lebih dikarenakan oleh nuansa sensual yang dipintonkan oleh sang penyanyi dalam keselarasan judul lagu Goyang Karawang. Sementara dalam lagu tersebut memang tak terdapat makna berarti bagi masyarakat. Adapun faktor pendukung penyebarannya adalah alat-alat eloktronik untuk memutar lagu/video tersebut seperti tape recorder, walkman, televisi, VCD player dsb, yang semua itu harus masyarakat miliki. 

Berhubungan dengan pembuatan film arwah goyang karawang yang dibintangi oleh Julia Perez yang banyak dinilai orang sama sekali tidak ada relevansinya dengan sejarah goyang karawang, dan lebih cenderung “bomseks” itu bukan hal aneh lagi, karena yang menggarap film tersebut adalah perusahaan/industri film yang berorientasi profit (Kapitalistik) yang memiliki watak membodohi dan cabul.

Demikianlah kesimpulan yang dapat penulis ambil. Semoga tulisan ini sedikit memberikan gambaran bagi kontroversi istilah goyang karawang.
 
(http://engkoskoswara.blogspot.com/2010/11/goyang-karawang-antara-terminologi.html)

Sabtu, 05 Februari 2011

Pemerintah Beri Sinyal Penyederhanaan Pemilu

Pemerintah menyambut baik gagasan untuk mengefisienkan sistem dengan membagi antara pemilu lokal yakni pemilu kepala daerah (pilkada) dan DPRD dengan pemilu nasional yakni, DPR dan Presiden. Hal itu ditujukan untuk mengurangi banyaknya ongkos politik dalam penyelenggaraan pemilu.

Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri, Djohermansyah Djohan mengatakan,  ide  untuk penyederhanaan sistem pemilu itu cukup masuk akal untuk efisiensi anggaran pemilu. Nantinya, mekanisme antara pemilu nasional dan daerah akan diberi jeda selama dua tahun.

"Jadi contohnya pemilu nasional dilakukan pada April 2014, maka Pemilu lokal diselenggarakan dua tahun sesudahnya, yakni April 2016," jelasnya kepada wartawan di sela diskusi 'Carut Marut Pilkada dan Korupsi di Daerah' di DPD RI, Jumat (4/2).

Djohermansyah memaparkan, penyederhanaan itu juga diharapkan dapat mempermudah penyelenggaraan pemilu. Dia menyebutkan, nantinya juga tata cara kampanye ditekankan agar tidak perlu banyak mengeluarkan biaya. "Beberapa hal yang akan dilarang itu yakni, rapat umum pengerahan massa, pemasangan baliho, poster, iklan di TV dan koran yang berlebihan," bebernya.

Menurut dia, dengan pengetatan aturan tata cara dan penyederhanaan penyelenggaran pemilu lokal dan nasional membuat kualitas pemilu menjadi lebih baik.

Kamis, 23 September 2010

transportasi masal (kereta api)

Fasilitas transportasi yang telah kita nikmati bukan semata-mata untuk sekedar menjadi pelengkap dalam suatu kegiatan kemasyarakatan maupun kegiatan ekonomi dalam suatu wilayah, akan tetapi juga sebagai tolok ukur kesejahteraan bangsa dan kemasyhuran negara. Masyarakat memang menjadi target utama dalam konsumsi jasa transportasi yang ada, akan tetapi masyrakat juga menjadi salah satu aspek adanya kemajuan transportasi yang ada. Dalam konteks kereta api, yang selalu menjadi andalan masyarakat menjadi suatu hal yang lumrah jika beberapa hal negatif yang ada yang juga disebabkan oleh masyarakat sendiri. Kereta api yang selama ini menjadi andalan masyarakat menengah ke bawah selalu ada kendala dalam teknis dan perawatan yang seringkali menjadi hal utama kecelakaan dan hal buruk lain.
Peningkatan mutu transportasi harus menjadi aspek utama dalam program pembangunan yang berkelanjutan. Sehingga negara ini bisa menjadi negara yang baik di mata dunia. Karena, fasilitas yang bermutu baik adalah cerminan negara yang baik pula.
Karena semua itu apabila pelayanan transport kereta api itu sangat baik,mungkin banyak orang dikalangan ekonomi keatas akan selalu menggunakan fasilitas yang disediakan oleh negara ini dan mereka juga mungkin akan membatasi menggunakan mobil-mobil pribadi yang begitu banyaknya diindonesia yang bikin kemacetan,polusi udara.dan sebagainya,karena kita tahu kereta api itu adalah angkutan masal yang irit mengeluarkan polusi udara.
saran dalam upaya peningkatan kereta
.Peningkatan mutu pelayanan kereta api supaya masyarakat yang terutama kalangan menengah-atas bisa menggunakan kereta api agar jangan mereka memakai mobil yang selalu menjadi faktor kemacetan di jalan raya;
.Membangun akses cepat dan mudah terjangkau bagi masyarakat;
.Publikasi yang dapat mengubah cara pandang masyarakat akan kereta api yang selalu menjadi momok buruk bagi bidang transportasi darat;
.Perhatian serius dari pemerintah dalam pengelolaan kereta api sebagi andalan transportasi darat.

saran – saran yang telah diutarakan di harap menjadi suatu acuan penting dan bersifat membangun bagi kemajuan dan perkembangan perkeretaapian di Indonesia.

PEMBATASAN KENDARAAN UNTUK MENGURANGI KEMACETAN JAKARTA

Kemacetan di ibukota DKI Jakarta tidak dapat dihindari, terutama pada titik-titik persimpangan baik di jalan-jalan protokol hingga di jalan lingkungan. Semakin hari, kemacetan di Jakarta semakin parah. Menurut sebuah penelitian, kemacetan tersebut membuat masyarakat Jakarta mengalami kerugian hingga Rp 48 triliun per tahun (Detik News, 26 Nop 2008). Puncak kemacetan diperkirakan terjadi pada jam sibuk di pagi hari (sekitar pukul 6.30-9.00 WIB) dan sore hari (sekitar pukul 16.30-19.30 WIB). Kemacetan ini mengakibatkan stres yang tinggi pada pengguna jalan, meningkatnya polusi udara kota, hingga terganggunya kegiatan bisnis.
Dalam catatan Dinas Perhubungan DKI Jakarta tahun 2007, terdapat 77 lokasi kemacetan pada ruas-ruas persimpangan jalan utama. Pada jam puncak kemacetan, kecepatan rata-rata bus kota hanya mencapai 10-25 km/jam untuk pagi hari dan 7-24 km/jam pada sore hari. Pada tahun 2000, diperkirakan jumlah perjalanan penumpang per hari mencapai 8,4 juta orang, dimana sebanyak 49,7% penumpang menggunakan angkutan umum bus kota, 26% menggunakan kendaraan pribadi, 19,3% menggunakan sepeda motor; dan 4% menggunakan jenis kendaraan lainnya. Hanya 1% saja yang memanfaatkan moda kereta rel listrik/kereta api.
Bila dilihat dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta tahun 2010 (pasal 19, ayat 2), menyebutkan bahwa tujuan pengembangan sistem transportasi diarahkan pada komponen-komponen:
1. Tersusunnya suatu jaringan sistem transportasi yang efisien & efektif;
2. Meningkatnya kelancaran lalu-lintas dan angkutan;
3. Terselenggaranya pelayanan angkutan yang aman, tertib, nyaman, teratur, lancar dan efisien;
4. Terselenggaranya pelayanan angkutan barang yang sesuai dengan perkembangan sarana angkutan dan
teknologi transportasi angkutan barang;
5. Meningkatnya keterpaduan baik antara sistem angkutan laut, udara dan darat maupun antar moda angkutan darat; dan
6. Meningkatnya disiplin masyarakat pengguna jalan & pengguna angkutan.
Tahun 2010 tinggal satu tahun ke depan jauhnya. Apakah kondisi ideal seperti yang diharapkan dalam RTRW DKI Jakarta ini dapat tercapai seperti yang diharapkan?
Permasalahan kemacetan di Jakarta tidak terlepas dari akar permasalahan transportasi yaitu yang dikarenakan tidak terkendalinya pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Jakarta, serta buruknya pelayanan sistem angkutan umum yang ada saat ini. Jumlah kendaraan bermotor saat ini jauh melebihi kapasitas jalan yang ada. Menurut data Polda Metro Jaya, penambahan mobil baru di Jakarta rata-rata 250 unit per hari, sedangkan sepeda motor mencapai 1.250 unit per hari. Pada tahun 2007, jumlah kendaraan yang melaju di jalanan Jakarta yang panjangnya hanya 5.621,5 km mencapai 4 juta unit per hari. Rata-rata pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor dalam lima tahun terakhir mencapai 9,5% per tahun, sedangkan pertumbuhan panjang jalan hanya 0,1% per tahun. Ini berarti bahwa dalam beberapa tahun ke depan, jalan di Jakarta akan tidak mampu menampung luapan jumlah kendaraan yang terus tumbuh melebihi panjang jalan yang ada. Melihat kondisi ini, maka perlulah ada pembatasan jumlah kendaraan yang melalui jalan-jalan di Jakarta agar tidak melebihi kapasitas yang mampu ditampungnya.

Kamis, 20 Mei 2010

Mungkinkah SBY Mendikte Peserta Kongres Demokrat?

Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan akan membuka Kongres II Partai Demokrat di Hotel Mason Pine, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (21/5/2010).
a juga rajin menggandeng Edhie Baskoro Yudhoyono, putra SBY dalam hampir setiap kampanyenya. Maklum, SBY adalah Ketua Dewan Pembina PD dan punya pengaruh yang menentukan.

Lalu, bagaimana SBY akan bersikap dalam kongres nanti? "Sangat kecil kemungkinannya SBY menyampaikan dukungannya kepada Andi secara terbuka," ujar analis politik M. Qodari di Jakarta, Kamis.

Menurut direktur eksekutif IndoBarometer ini, jika SBY menyampaikan dukungannya kepada salah satu kandidat, berati 'mendikte' atau memberi 'komando'.

"Kalau ternyata dukungan itu diberikan secara terbuka, akan merusak Partai Demokrat dan citra SBY sendiri," lanjut Qodari.

Kalau hal di atas tak dilakukan, masih ada kemungkinan lain yang dilakukan SBY yaitu memanggil tiga kandidat ketua umum dalam sebuah pertemuan.

Di sini SBY secara tertutup menyampaikan sikapnya--misalnya memberikan dukungan kepada salah satu kandiat. Tetapi, papar Qodari, belum tentu kandidat lain yang tidak didukung SBY akan dengan sukarela mengundurkan diri.

"Apalagi jika sikap SBY itu disampaikan secara tertutup dan terbatas yang tidak diketahui peserta kongres,